Minggu, 12 Mei 2013

Tips Meningkatkan Percaya Diri


Tips Meningkatkan Percaya Diri

Percaya Diri memberikan kita kebebasan untuk melakukan kesalahan dan mengatasi dengan kegagalan tanpa membuat diri kita tidak berharga. Jika kita memiliki rasa percaya diri, secara tidak langsung dapat meningkatkan rasa percaya diri orang lain juga.
Selain itu, kebanyakan orang segan untuk mengembalikan sesuatu hal yang dilemparkan oleh seseorang yang gugup, meraba-raba dan terlalu menyesali yang telah diperbuat. Di lain pihak, anda mungkin dengan cepat terpengaruhi oleh seseorang yang berbicara dengan jelas, yang lebih mengutamakan pikiran yang jernih, yang menjawab pertanyaan dengan pasti, dan selalu siap dan tidak malu mengakui jika dia tidak mengetahui tentang suatu hal.
jadi berapa tingkat Kepercayaan Diri anda jika bisa dinilai dengan skala 1-10? Apakah Anda termasuk memiliki kepercayaan Diri yang rendah? ada berita bagus untuk anda, ternyata rasa Percaya Diri dapat ditelaah dan dibangun.
mari kita mulai proses membangun rasa Percaya Diri. Mohon diingat tidak ada solusi instant untuk itu. Namun seperti kata pepatah; “Practice make a man perfect.” Jadi yang harus Anda lakukan adalah mencoba dan mengimplementasikan tips berikut dalam kehidupan sehari-hari.
1. Kenali rasa ketidaknyamanan Anda: Kita semua memiliki rasa ketidaknyamanan. Bisa muncul karena jerawat di muka anda, selalu menyesali, tidak nyaman pada teman-teman anda. Memberikan nama pada sesuatu hal yang dapat membuat anda merasa tidak berharga, malu atau rendah dapat membantu melawan hal-hal tersebut. Anda bisa menuliskan pikiran anda pada sehelai kertas dan ini dapat membuat perasaan Anda lebih ringan dan bahagia. Ingat tidak ada seorang pun yang sempurna. Orang-orang disebelah Anda mungkin juga memiliki banyak rasa ketidaknyamanan yang sama dengan anda. Jika dengan menuliskan masalah anda tidak cukup membantu, anda bisa membicarakannya dengan teman dekat anda atau seseorang yang anda cintai. Membagi pikiran anda akan menolong meringankan beban yang anda tanggung sendiri.
2. Kenali kesuksesan anda: Tidak jadi soal seberapa besar perasaan ketidaknyamanan anda, Tuhan telah memberkahi diantara kita dengen suatu bakat tertentu. Temukan sesuatu hal yang anda ahli dan jago di bidang itu dan fokuslah untuk mengembangkannya. Rendah diri adalah pernyataan pikiran yang mendeklarasikan diri anda sebagai Korban. jangan biarkan diri anda menjadi Korban.
3. Beryukurlah atas apa yang anda miliki : waktu membuktikan akar dari perasaan ketidaknyamanan dan tidak percaya diri adalah perasaan selalu tidak cukup atas kepemilikan sesuatu, apakah itu pengakuan emosional, keberuntungan, uang, dll. Dengan mengakui dan menghargai apa yang kita miliki, anda dapat melawan perasaan tidak utuh dan tidak puas. Menemukan kedamaian dalam diri akan membangkitkan percaya diri anda.
4. Selalu berpikiran postif : Hindari mendapatkan rasa kasihan dan simpati dari orang lain. jangan pernah membuat orang lain memiliki rasa rendah terhadap anda, mereka bisa merasa sepert itu hanya dengan seijin anda. Jika anda terus menerus benci dan merendahkan diri anda sendiri, orang akan melakukan dan menilai anda seperti itu. Anda harus berbicara positif tentang diri anda,tentang masa depan anda, dan tentang kemajuan anda.Jangan pernah takut menunjukkan kekuatan dan qualitas anda pada orang lain.
5. Berpakaian rapih : Walaupun pakaian tidak membuat orang lebih berkualitas, tapi dapat mempengaruhi cara berpikir kita terhadap diri kita sendiri. Ketika kita tidak terlihat bagus, maka perasaan anda juga tidak bagus. dan ini dapat merubah cara anda membawa diri anda sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Ini bukan berarti anda harus menyediakan uang yang banyak untuk belanja baju. Daripada membeli banyak pakaian murah, lebih baik membeli beberapa baju dengan kualitas tinggi. Dalam jangka waktu yang lama juga akan menghemat pengeluaran, sebab baju yang lebih bagus dan sedikit lebih mahal akan lebih kuat dibandingkan baju yang jelek dengan harga yang murah.

7 Tingkatan surga dan Neraka


7 Tingkatan surga dan Neraka [muslim masuk]

Kemanakah jalan yang ingin kita tempuh: 
7 tingkatan Neraka
1.Neraka jahanam:
Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar
“….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari”
Firman Allah SWT:
“Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuniAllah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam. Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah”(Q.S. An-Nisa: 169)
2.Neraka ladhoh: 
Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama
Firman Allah SWT :
“Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya”(Q.S. Al-Lail : 14-16)

3.Neraka Khutamah: 

Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka.
Firman Allah SWT :
“Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang” (Q.S. Al-Humazah : 4-9)

4.Neraka sair: 

Tingkat ke-empat yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud.
Firman Allah SWT :
“Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair(Q.S. An-Nisa: 10)

5.Neraka Sahkhor: 

Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat, tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,.
Didalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “
Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.(Q.S. Al-Mudatsir : 40-46)
6.Neraka jahim: 
Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak.
Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itulah penghuni neraka Jahim.(Q.S. Al-Maidah : 86)
7.Neraka Hawiyah:
Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun.
Firman Allah SWT :
“Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas”.(Q.S. Al-Qoriah : 8-11)
sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”.
Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajengking
7 tingkatan Surga
1.Darus Salam: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6:127)
Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka,
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. 36:57-58)

2.Jannatu ‘adn: 

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24)
3.Jannatul Khuld: 
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15)
4.Darul Muqamah: 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35)
5.Jannatul Ma’wa: 
Adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin
6.Jannatun Na’im: 
7.Al Muqamul Amin:

Hakekat Hidup Didunia


Hakekat Hidup Didunia
(KALBU ) PENYAKIT MERASA TIDAK PERNAH PUAS DAN HOBI MENGELUH

Dunia adalah negeri ujian. Allah Azza wa Jalla menghendaki keadaan manusia berbeda-beda sebagai ujian. Ada orang Mukmin dan kafir, orang sehat dan sakit, orang kaya dan miskin, dan seterusnya. Makna semua ini, bahwa seseorang itu diuji dengan orang yang tidak seperti dia. Seorang yang kaya contohnya, dia diuji dengan keberadaan orang miskin. Sepantasnya orang kaya tersebut membantunya dan tidak menghinanya. Sebaliknya si miskin juga diuji dengan keberadaan si kaya. Sepantasnya dia tidak hasad terhadap si kaya dan tidak mengambil hartanya dengan tanpa hak. Dan masing-masing berkewajiban meniti jalan kebenaran.

Jika kita melihat keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, maka kita akan takjub dengan kesabaran mereka menghadapi kesusahan hidup di dunia ini. Memang mereka layak dijadikan panutan. Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبِيتُ اللَّيَالِيْ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا وَأَهْلُهُ لاَ يَجِدُونَ عَشَاءً وَكَانَ أَكْثَرُ خُبْزِهِمْ خُبْزَ الشَّعِيرِ

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati beberapa malam berturut-turut dengan keadaan perutnya kosong, demikian juga keluarganya, mereka tidak mendapati makan malam. Dan sesungguhnya kebanyakan rotinya mereka adalah roti gandum. [HR. Tirmidzi, no. 2360; Ibnu Mâjah, no. 3347]

Selain kesabaran, maka sikap yang tidak kalah penting adalah qanâ'ah. Yang dimaksud dengan qanâ'ah adalah ridha terhadap pembagian Allah Azza wa Jalla . Karena sesungguhnya hakekat kaya itu adalah kaya hati, bukan kaya harta. Dan qanâ'ah merupakan jalan kebahagiaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sesungguhnya telah beruntung orang yang telah masuk agama Islam, diberi kecukupan rizqi, dan Allah menjadikannya qanâ'ah terhadap apa-apa yang telah Dia berikan kepadanya.

Al-Munawi rahimahullah menyebutkan : “Penyakit ini (yaitu tidak puas dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pada pemuja dunia. Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yang telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta terpana dengan rizki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang untuk menambah hartanya , sampai umurnya habis, kekuatannya sirna ; dan ia pun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang digapainya dan rasa letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal, ia tidak akan memperoleh selain apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tidak mensyukuri yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan” [Faidhul Qadir, 2/236]

Saudaraku tahukah anda bahwa pola pikir yang picik dan sudut pandang yang sempit tentang arti nikmat semacam ini adalah biang derita anda selama ini. Tidur tidak nyeyak, makan tidak enak, badan terasa sakit dan urusan seakan sempit. Padahal sejatinya semua derita itu tidak seharusnya menimpa kehidupan anda. Andai anda menyadari hakekat nikmat Allah. Semua ini terjadi karena anda merasa jauh dari nikmatnya.

Di saat anda dihadapkan pada hidangan nasi, tempe, sayuran dan segelas air putih, mungkin anda merasa bersedih. Anda menduga bahwa anda baru mendapat nikmat yang luas bila dapat menyantap hidangan berupa daging, dengan berbagai variasi cara memasaknya, dan dilengkapi dengan berbagai menu lainnya. Akibatnya anda tidak dapat merasakan betapa nikmatnya hidangan tempa dan sayuran tersebut.

Derita anda semakin terasa lengkap karena betapa banyak nikmat Allah yang anda anggap sebagai bencana, anda mengira bahwa diri anda layak untuk menerima rezeki lebih banyak dibanding yang anda terima saat ini.

Akibat dari pola pikir ini anda senantiasa hanyut oleh badai ambisi, dan menderita karena senantiasa berjuang untuk mewujudkan impian anda yang diluar kemampuan anda sendiri.

“Andai engkau telah memiliki dua lembah harta benda, niscaya anda berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Dan tidaklah ada yang mampu menghentikan ambisimu dari mengumpulkan harta kekayaan selain tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat orang yang kembali kepada-Nya [Muttafaqun ‘alaih]

Ambisi mengeruk dunia ini menjadikan anda semakin sengsara dan hidup terasa gersang. Kebahagian yang dahulu anda juga tersimpan dibalik kekayaan semakin jauh dari genggaman anda. Bila urusan akhirat didahulukan dengan amaliah terbaik dengan keikhlasan dan kesabaran berprasangka terbaik juga kepada yang maha baik yaitu Allah SWT, Insya Allah kemenangan dunia dan akhirat menjadi miliknya.

Rasulullah SAW Bersabda,“Barangsiapa yang urusan akhirat adalah pusat perhatiannya, Allah letakkan kekayaannya dalam hatinya, urusannya menjadi bersatu, dan rezeki dunia akan menjadi lapang. Sedangkan orang yang pusat perhatiannya adalah urusan dunia, Allah letakkan kemiskinannya ada di pelupuk matanya, urusannya tercerai berai dan rezkinya menjadi sempit” [HR Tirmidzy dan lainnya]

kedewasaan


Arti dari sebuah kedewasaan :
Dewasa itu mau belajar, tidak egois, bisa bertanggung jawab atas semua tindakan, berpikir kedepan, bisa mengerti lingkungan, dan bisa mengerti mana situasi pada saat main-main ataupun serius.
Dan yang jelas, dewasa itu tidak bisa didapat secara instan, tidak semudah powerrangers yang tinggal mencet – mencet jam ajaibnya terus bisa berubah jadi pahlawan warna – warni. Dewasa itu pembelajaran yang membutuhkan waktu. Tidak semudah itu dapat menilai kedewasaan seseorang, dan tidak semudah itu berkata kepada seseorang bahwa orang tersebut tidak dewasa.
Ciri khas umat Dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam
berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam
mengendalikan lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu
dikomentari.
Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari.,ketika dia
melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari,ketika menonton televisi misalnya ;
komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton . Penonton tv yang dewasa itu
senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan (tentunya acara yang
bermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah, Subhanalloh.
Ketika menyaksikan demonstrasi dia bertafakur.. \”beginilah kalau negara belum matang, setiap
waktu demo,kata-kata yang dikeluarkan jauh dari kearifan\”\”ternyata sangat mudah menghina,
mencaci, dan memaki itu\” Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa bisa dilihat dari
komentar-komentarnya,makin terkendali Insya Allah akan semakin matang.
Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba
perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain
berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat
dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikap
terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi
bukan berarti berkuasa,bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi
pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan
semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan
semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya
sendiri.
Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (Wara’),dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar
berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu ; tiap detik,tiap tutur kata , dia tidak mau
jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat
tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan.Orang yang bersikap atau memiliki
kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil
keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.
Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ; didalam rumah
seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangis
sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis , mengapa ? karena ternyata ibunya
menangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang,
mantap dan stabil.
Sahabat-sahabat, seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai sikap yang amanah, memiliki
kemampuan untuk bertanggung jawab.
Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggungjawab, sebagai
contoh ; seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah
yang halal dan mendidik anak istrinya ? Bukan masalah kehidupan dunia ,yang menjadi masalah
mampu tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti ? Ke surga atau
neraka? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan kesuksesan
anak-anaknya di dunia dan akherat.
Pernah ada seorang teman menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, ketika ditanya tentang
sholatnya ? ternyata tidak berjalan dengan baik karena orang-orangnya tidak ada yang sholat
sehingga melakukannya pun kadang-kadang, apalagi untuk shalat Jumat jarang dilaksanakan, dengan
alasan masjidnya jauh.
Lalu kenapa disekolahkan di Luar Negeri ? alasannya adalah sebentar lagi globalisasi., ketika
perdagangan bebas anak harus disiapkan. Tetapi bagaimana jika sebelum perdagangan bebas anaknya
meninggal dunia ? sudah disiapkan belum pulang ke akherat? orang yang dewasa akan berpikir keras
bagaimana anak-anaknya bisa selamat? Jangan sampai di dunia berprestasi tapi di akherat celaka.
Saudaraku tidak cukup merasa bangga dengan menjadi tua, mempunyai kedudukan,jabatan,karena
semua itu sebenarnya hanyalah topeng, bukan tanda prestasi. Prestasi itu adalah ketika kita
semakin matang, dan semakin dewasa .
Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang
disekitar kita, kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, istri
dan anak-anak kita maju tidak? lihat sanak saudara kita pada maju tidak? Jangan sampai kita
sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan
seret.,sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan.,kedewasaan seseorang itu
dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah ? 

Jumat, 26 April 2013

Tilawah, Ta’lim dan Tazkiyah



Tilawah, Ta’lim dan Tazkiyah
Kupasan Fikrah Ustaz Salam
Oleh:shaffix farras maulama

Maha Suci Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. Di dalamnya kaya dengan ilmu dan pengajaran. Beruntunglah bagi sesiapa yang bertadabur al-Qur’an iaitu orang yang mengamati dan menghayati bait-bait ayat al-Qur’an, kemudian berfikir dan mengambil pengajaran daripadanya. Kemudian membandingkan perkaitan dengan hidupnya. Ia melibatkan rifleksi hati yang mampu menguja anggota badan untuk beramal.
Al-Qur’an juga berjaya melahirkan para sahabat seperti Saidina Abu Bakar as-Shidiq, Saidina Ali Karamallahuwajhah, Saidatina Khadijah r.ha, Saidatina Aishah r.ha, Zaid bin Harithah, Bilal bin Rabbah dan yang lain yang diceritakan di dalam sejarah. Wahyu yang didatangkan melalui Rasulullah saw benar-benar dapat mengubah pemikiran mereka sehingga Saidina Umar r.a yang garang dan keras hati boleh menjadi seorang yang penyabar dan lembut hati kepada orang-orang Mukmin. Sanggup berjuang hingga ke titis darah terakhir semata-mata menegakkan Kalimah Toiyibbah.
Zaman selepas kewafatan Rasulullah saw juga berjaya mewujudkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Sallehuddin al-Ayubi, Muhammad al-Fateh dan ulama-ulama penyambung tugasan para Rasul. Al-Qur’an dan sunnah mampu mewujudkan individu Muslim yang Mukmin walaupun ketiadaan jasad Rasulullah saw itu sendiri.
Timbul persoalan di sini, bagaimana al-Qur’an dan sunnah mampu mengubah seseorang itu dari satu keadaan yang tidak baik kepada keadaan yang lebih baik sehingga seakan-akan menyamai generasi sahabat atau lebih daripada itu. Rasulullah saw pernah bersabda;
“Akan ada diakhir zaman nanti orang-orang apabila beramal melebihi 50 kali ganda daripada kamu.” Sahabat bertanya; “Siapakah kamu itu?” Rasulullah saw menjawab; “kamu itu ialah kamu semua, sahabat-sahabatku.”
Maka tidak mustahil sesiapa sahaja dikalangan kita boleh mencapai tahap tersebut. Di dalam al-Qur’an ada menerangkan satu kaedah pengajaran dan pembelajaran yang berkesan sehingga mampu mengubah peribadi individu Muslim. Kaedah tersebut ialah penggunaan konsep tilawah, ta’lim dan tazkiyah sebagaimana di dalam surah al-Baqarah:129,
رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيہِمۡ‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (١٢٩
Wahai Tuhan Kami! Utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu (firmanMu) dan mengajarkan mereka isi kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmat kebijaksanaan dan membersihkan (hati dan jiwa) mereka (dari syirik dan maksiat). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (129)
Tilawah( ۡ يَتۡلُو )
Tilawah ialah satu konsep satu hala di mana wujud suasana guru membacakan ilmunya dan didengari oleh anak murid atau pendengar yang mendengar dengan meneliti isi kandungannya dan cuba mengikutinya . Konsep ini selalu digunakan di sekolah-sekolah, tempat ceramah, khutbah Jumaat, siaran radio, dan kaedah-kaedah yang seumpama.
Contohnya, tilawah al-Qur’an. Bacaan diperdengarkan oleh pembaca dan didengari oleh penonton. Di sekolah pula guru menerangkan ilmunya dan didengari oleh pelajar di dalam kelas. Di dalam majlis ceramah, penceramah memberi kuliahnya dan didengari oleh mereka yang hadir. Ini bermakna ilmu dibacakan dan sepatutnya diikuti dengan baik tetapi pemahamannya bergantung kepada pendengar. Ada yang boleh memahaminya dengan baik, ada yang memahaminya separuh sahaja dan ada yang tidak memahaminya langsung. Oleh itu ia perlu pergi ke proses seterusnya sama ada ta’lim atau tazkiyah.
Ta’lim (َيُعَلِّمُهُمُ )
Ta’lim adalah suatu konsep memastikan berlakunya pemahaman terhadap apa yang diajar. Konsep ini memerlukan pengajaran dan pembelajaran secara dua hala atau lebih. Pendekatan yang boleh diguna seperti perbincangan dalam kumpulan atau bengkel, tutorial, ujian atau peperiksaan, latihtubi dan banyak lagi teknik yang seumpama bergantung kepada kreativiti-kreativiti penyampai maklumat. Yang perlu dipastikan adalah pemahaman telah berlaku.
Fenomena disekolah sebagai contoh, markah ujian sejarah di dalam satu kelas yang mengandungi 30 orang pelajar adalah berbeza-beza walaupun mereka mendapat ilmu daripada seorang guru sejarah yang sama. Ini menunjukkan tahap pemahaman mereka yang berbeza dan mungkin juga usaha untuk memahamkan ilmu tersebut adalah berbeza-beza kesungguhannya.
Sebagai guru atau murrabi atau pendakwah sepatutnya mengikut saranan al-Qur’an bahawa setiap apa yang disampaikan perlu dipastikan ia betul-betul difahami oleh pelajar atau mad’u. Iaitu konsep mengajar sampai faham atau sampai pandai. Inilah konsep yang digunakan dalam Islam. Maka akan lahirlah para cendiakawan dan ilmuan.
Jika dirujuk kepada ayat di atas, Nabi Ibrahim a.s berdoa kepada Allah swt supaya diutuskan seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (۬ مِّنۡہُمۡ ). Apa pengajarannya? Mengapa dari kalangan mereka sendiri?
Menurut sejarah, Nabi Ibrahim a.s adalah dari keturunan Iraq. Berkahwin dengan Sarah juga dari keturunan Iraq. Maka lahirlah Nabi Isyak a.s menjadi keturunan Iraq. Daripada Nabi Isyak a.s pula lahirlah Nabi Yaakob a.s dan seterusnya Nabi Yusuf a.s.
Nabi Musa a.s, Nabi Harun a.s dan sehinggalah Nabi Isa a.s adalah daripada keturunan Nabi Yaakob a.s. Mereka diutuskan kepada Bani Israil. Bila diteliti dengan baik, terdapat banyak cerita di dalam al-Qur’an berkenaan kisah Nabi Musa a.s. Ujian yang dihadapinya adalah sangat berat. Rasulullah saw pernah berdoa supaya Allah ‘azza wa jalla merahmati Nabi Musa a.s. Ada dua ujian besar yang dihadapi oleh Nabi Musa a.s. iaitu:
(1) Berhadapan dengan Fira’un. Pemimpin atau raja yang paling berkuasa, paling kejam dan paling jahat.
(2) Kaum Bani Israil yang sangat degil, sombong dan ego. Mereka payah beriman kepada ajaran Nabi Musa a.s. walaupun mereka telah melihat sendiri 9 mukjizat Nabi Musa a.s. sebagai bukti kenabian Nabi Musa a.s. Ketika Nabi Musa a.s meninggalkan mereka dalam tempoh yang tidak lama ke Bukit Tursina, mereka kemudian berpaling menyembah lembu yang diberi nama Samiri.
Ini memberi gambaran kepada kita bahawa bukanlah senang untuk menjadi seorang da’i. Banyak halangan dan dugaan yang akan dihadapi. Namun setiap usaha yang dibuat pasti mendapat ganjaran disisi Allah ‘azza wa jalla.
Manakala Nabi Ibrahim a.s juga berkahwin dengan Hajar dari keturunan Mesir. Hasil perkahwinan mereka lahirlah Nabi Ismail a.s. Nabi Ismail a.s pula berkahwin dengan wanita dari keturunan Arab yang menetap di Makkah sehingga melahirkan keturunan Arab. Nabi Muhammad saw adalah dari keturunan Nabi Ismail a.s yang berketurunan Arab. Selepas Nabi Ismail a.s, tiada lagi Nabi diutuskan sehinggalah kewujudan Nabi Muhammad saw di bumi Arab itu.
Ini bermakna, doa Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah swt selepas 4 atau 5 ribu tahun kemudian. Itu doa seorang Nabi, jika kita bagaimana pula? Terpulanglah kepada Allah swt sama ada hendak memakbulkannya dengan segera atau lambat atau tidak dimakbulkan. Sebagai orang Mukmin perlulah beriman kepada qadha’ dan qadhar Allah swt. Meyakini bahawa setiap yang ditetapkan Allah swt keatas dirinya adalah yang terbaik. Allah ‘azza wa jalla mengahui tetapi kita tidak mengetahui ilmu-Nya. Malah perbuatan berdoa itu sendiri menunjukkan kerendahan dan pengharapan seorang hamba kepada Penguasanya. Perbuatan seperti ini adalah ibadah. Setiap ibadah pasti mendapat ganjaran pahala.
Kembali kepada persoalan mengapa Nabi Ibrahim a.s memohon supaya diutuskan seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri? Ini kerana apa yang hendak dibawa ialah pemahaman agama. Justeru itu adalah lebih berkesan dan mudah sekiranya ia dibawa oleh orang tempatan yang mengenali budaya dan bahasa setempat. Malah para da’i juga hendaklah memahami budaya tempatan dan duduk bersama mereka supaya pengajaran dan pembelajaran menjadi lebih lunak dan menyelinap hingga ke kalbu.
Jika kita mengimbau kembali sejarah Islam di Acheh, seorang berbangsa Belanda bernama Dr.Snouck Hurgronje telah berjaya menembusi pengaruh Islam di Acheh. Sebelum ini, Acheh adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang kebal dari penaklukan Belanda. Sehinggalah kehadiran Dr.Snouck Hurgronje dapat mempengaruhi dan mengubah pemikiran orang-orang Islam Acheh dan akhirnya Acheh berjaya dijatuhkan ketangan Belanda. Bagaimana Dr.Snouck Hurgronje melakukannya?
Dr. Snouck Hurgronje telah mengkaji budaya, peradaban, dan agama Islam sehingga sanggup masuk Islam dengan nama Abdul Ghaffar. Beliau juga pandai berbahasa Arab dan berkahwin dengan rakyat tempatan. Selama 16 tahun berada di sana, beliau berjaya mempengaruhi pemikiran orang Acheh dan akhirnya Belanda berjaya menakluki Acheh.(rujuk http://en.wikipedia.org/wiki/Christiaan_Snouck_Hurgronje)
Begitu juga pergerakan mubaligh Kristian di Sarawak. Mereka cuba mempelajari budaya dan bahasa tempatan seperti Iban, Kadayan dan yang lain. Akhirnya berjaya sehingga kini banyak gereja-gereja di Sarawak dan majoriti penduduk di Sarawak adalah penganut agama Kristian.
Jelas di sini, untuk mengaplikasi konsep mengajar sampai faham atau sampai pandai ini memerlukan pengorbanan yang bukan sedikit.
Justeru itu, orang-orang yang bukan berbangsa Arab, untuk memahami al-Qur’an yang berbahasa Arab perlu berkorban mempelajari Bahasa Arab semata-mata cuba memahami secara mendalam isi kandungan al-Qur’an. Membaca terjemahan al-Qur’an adalah berbeza kefahamannya berbanding memahami Bahasa Arab yang unik itu. Ini sangatlah penting untuk menjadi seorang yang fiqh ad-Din kerana segala-gala rahsia Islam berada di dalam al-Qur’an.
Tazkiyah ( َوَيُزَكِّيہِمۡ‌ۚ )
Rasulullah saw terpaksa berhadapan dengan masyarakat Arab yang rosak budaya sosialnya. Masyarakat yang sukakan hiburan semata-mata, masalah zina, tipu menipu dalam jual beli, yang kaya menindas yang miskin, penyembahan bahala dan lain-lain masalah aqidah dan sosial. Menangani masyarakat yang rosak selama 4 hingga 5 ribu tahun memang sangat mencabar. Namun, berpandukan wahyu(al-Qur’an), Rasulullah saw yang berbangsa Arab dan mengetahui budaya masyarakatnya berjaya mengharungi onak dan duri sehingga melahirkan generasi Sahabat yang menyambung perjuangannya. Bagaimanakah ia dilakukan?
Al-Qur’an sebagai mu’jizat diturunkan untuk membaiki aqidah dan cara hidup Muslim. Memperolehi ilmu secara tilawah dan memahami ilmu secara ta’lim adalah tidak mencukupi untuk mengubah peribadi seseorang Muslim. Orang yang berilmu tidak semestinya beramal. Orang yang beramal tanpa ilmu pula adalah rugi dan sia-sia. Guru di sekolah boleh melahirkan pelajar yang pandai tetapi belum tentu berakhlak mulia. Ini kerana ilmu yang diperolehi tidak sampai ke hati. Maka ilmu yang ada tidak dapat mengubah peribadi pelajar.
Hadith Rasulullah saw;
} أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْب – رواه البخاري ومسلم
Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik, maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa itu adalah hati “. - (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Jika dilihat para sahabat di zaman Rasulullah saw, hampir 99% daripada mereka adalah buta huruf. Mereka tidak dapat membaca. Sementara itu, ramai juga dari kalangan sahabat ini keluar berjihad menentang musuh Islam. Maka masa untuk tilawah dan ta’lim adalah terhad. Namun mereka tetap hebat dengan tazkiyah. Apa yang ditazkiyahkan?
Mereka telah mentazkiyahkan perkara:
1. Menyucikan dan membersihkan Aqidah dari syirik kepada mentauhidkan Allah swt. Asal tauhid ialah‘wahada’ yang bermaksud Esa. Nabi saw mengambil masa 13 tahun untuk mengukuhkan aqidah para sahabat.
2. Menyucikan, membersihkan, memperbaiki diri daripada akhlak yang tidak baik dan daripada amalan-amalan maksiat sebagaimana amalan jahiliyah.
3. Membersihkan dan menyucikan harta.
Tazkiyah Aqidah Dari Syirik
Bangsa Arab sebelum kedatangan Rasulullah saw telah membuat berhala daripada pelbagai bahan seperti kayu, batu, logam dan ada yang dibuat daripada buah kurma yang dibungkus. Mereka membuatnya sebagai patung penyembahan, ada yang selepas beribadah kemudian memakan semula patung yang dibuat daripada kurma apabila mereka rasa lapar. Ada yang dibuat untuk kebanggaan seperti patung raja-raja, para pahlawan dan ilmuwan semata-mata untuk mengingati sejarahnya yang baik agar dijadikan contoh. Ada pula membuatnya hanya sekadar sebagai perhiasan yang disimpan di dinding rumah, depan pintu rumah dan di halaman rumah. Kalau diperhatikan di zaman sekarang yang dikatakan sebagai zaman moden, terdapat patung-patung sebagai sembahan, tugu peringatan dan juga sebagai perhiasan. Mengejar wang, pangkat dan kemewahan sehingga membelakangkan Allah ‘azza wa jalla. Bukankah itu sama seperti aqidah zaman jahiliyah yang perlu ditazkiyahkan?
Arab jahiliyah juga ada yang mempercayai Allah swt mempunyai anak. Orang Yahudi mempercayai ‘Uzair adalah anak Allah. Orang Nasrani mempercayai Nabi Isa a.s adalah anak Allah. Manakala orang Musyrikin Arab mempercayai malaikat adalah anak Allah. Sehingga kini kepercayaan ini masih ada dan memerlukan tazkiyah.
Tazkiyah Akhlak
Telah disebutkan sebelum ini, orang Arab jahiliyah mempunyai akhlak yang teruk. Mereka merendahkan darjat wanita sehingga sanggup menguburkan anak perempuan hidup-hidup kerana menutup malu dan supaya tidak terhina dengan kelahiran anak perempuan. Amalan-amalan seperti minum arak, berjudi, bertilik nasib, anshab dan azlaam. Anshab ialah batu tempat penyembelihan kurban mereka yang dipuja-puja(seperti perkara khurafat). Azlaam pula anak panah yang tiada bulu dihujungnya digunakan untuk undian. Satu ditulis‘lakukanlah’, satu ditulis ‘jangan dilakukan’ dan satu lagi tidak ditulis apa-apa kemudian diletakkan di dalam Ka’abah. Juru kunci Ka’abah diminta mengambil anak panah itu untuk melihat sama ada mereka perlu atau tidak melakukan pekerjaan yang dimaksudkan(seperti menilik nasib). Amalan-amalan seperti ini masih wujud disesetengah tempat. Sedangkan manusia diberikan akal fikiran oleh Allah swt untuk membuat pilihan berdasarkan ilmu dan syari’at. Akhlak dan amalan seperti inilah yang perlu ditazkiyahkan.
Tazkiyah Harta
Orang Arab jahiliyah sebelum kedatangan Rasulullah saw juga mengamalkan amalan riba seperti mengadakan sistem bunga dalam hutang piutang. Ini dipanggil sebagai riba nasiah. Manakala riba fadhli ialah mencampurkan suatu yang baik dengan yang tidak baik dalam jual beli atau seumpamanya. Sebagai contoh, menjual buah yang elok dicampur dengan yang busuk semasa timbangan. Menimbang emas yang dicampurkan dengan bahan pemberat yang lain untuk menipu timbangan. Ini semua perlukan tazkiyah supaya menjadi seorang yang jujur, amanah dan tidak menzalimi sesama manusia. Justeru zakat diwajib sebagai tazkiyah harta.
Jelas disini, tazkiyah hati sangat penting dalam perubahan hidup Muslim. Aqidah yang mantap akan melahirkan insan yang bermotivasi dan bermatlamat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah swt.
Maka dapat disimpulkan disini bahawa tilawah sepatutnya akan menarik kepada ta’lim dan tazkiyah. Apa-apa yang dibaca atau didengari mestilah difahami melalui pelbagai cara dan penyucian atau pembersihan hati mestilah berlaku. Perubahan akan dapat dilihat melalui pengamalan individu Muslim itu. Jika tiada ketiga-tiga konsep ini, maka tidak akan lahir orang yang beriman dan bertaqwa.
Timbul persoalan di dalam diri, bagaimana untuk mendapatkan atau melakukan tazkiyah? Tazkiyah adalah sebahagian daripada Tarbiyah( memperbaiki, memelihara, menjaga, mendidik, memimpin, meninggikan, menyempurnakan, menumbuhkan dan mengembangkan). Manusia mempunyai 3 elemen yang perlu ditarbiyahkan iaitu:
1. Akal. Akal manusia boleh ditarbiyah dengan ilmu. Ilmu menyebabkan akal dapat membezakan di antara baik dan buruk.
2. Jasad atau badan atau fizikal manusia. Tubuh manusia dapat ditarbiyah dengan perkara-perkara yang menyihatkan seperti makan makanan yang berzat dan melakukan senaman.
3. Hati. Hati nurani manusia dapat ditarbiyah dengan iman dan Islam. Proses mendapatkan iman dan Islam ini memerlukan pengorbanan yang memenatkan. Perlu bersedia untuk ‘at-tawissi’( dalam surah al-Asr, ‘at-tawissi’ bermaksud berpesan-pesan) yakni berpesan-pesan kepada kebenaran dengan kesabaran. Tidak semua orang boleh menerima teguran dan pesanan dengan hati yang terbuka. Oleh itu ta’aruf (mengenali orang yang hendak dipesan) adalah perlu untuk faham memahami antara satu sama lain(tafahum) dan diri sendiri juga perlu bersedia untuk ditegur dan dipesan-pesan. Kemudian sifat bantu membantu(takaful) perlu diwujudkan.
Kadang-kala wujud perdebatan apabila ditegur atau dinasihati. Teguran disambut dengan jawapan seperti;
“Engkau ni imam atau ustaz?” atau “Apa engkau ambil peduli? Kubur lain-lain…”
Mengapa ini boleh berlaku? Ini disebabkan tiada elemen ta’aruf dan tafahum diperingkat permulaan.
Bagaimana untuk membina ta’aruf, tafahum dan takaful? Untuk mewujudkannya perlu kepada kumpulan kecil atau kumpulan usrah yang duduk berbincang dalam iman dan istiqamah. Kumpulan ini merupakan asas kepada pembentukan tarbiyah. Ia seolah-olah seperti satu unit sel yang bersedia untuk bergabung dengan kumpulan mukmin yang lain membentuk tisu, organ dan seterusnya dapat berfungsi dalam keluarga, masyarakat dan Negara.
Terdapat 4 ayat dalam al-Qur’an yang menyebut perkataan tilawah, ta’lim dan tazkiyah:
1. Ayat 129 di dalam surah al-Baqarah di atas.
رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيہِمۡ‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (١٢٩)
Wahai Tuhan Kami! Utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu (firmanMu) dan mengajarkan mereka isi kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmat kebijaksanaan dan membersihkan (hati dan jiwa) mereka (dari syirik dan maksiat). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (129)
2. Ayat 151 di dalam surah al-Baqarah juga.
كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيڪُمۡ رَسُولاً۬ مِّنڪُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَـٰتِنَا وَيُزَكِّيڪُمۡ وَيُعَلِّمُڪُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِڪۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْتَعۡلَمُونَ(١٥١)
(Nikmat berkiblatkan Kaabah yang Kami berikan kepada kamu itu), samalah seperti (nikmat) Kami mengutuskan kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu (iaitu Muhammad), yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan membersihkan kamu (dari amalan syirik dan maksiat) dan yang mengajarkan kamu kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmat kebijaksanaan dan mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui. (151)
3. Ayat 164 di dalam surah Ali-Imran.
لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيہِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَڪِّيہِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِڪۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ (١٦٤)
Sesungguhnya Allah telah mengurniakan (rahmatNya) kepada orang-orang yang beriman, setelah Dia mengutuskan dalam kalangan mereka seorang Rasul dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (kandungan Al-Quran yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya) dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajar mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum Syariat) dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata. (164)
4. Ayat 2 di dalam surah al-Jumu’a .
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيہِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ۬ (٢)
Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab) yang Ummiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak) dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata. (2)
Kita Penyambung Tugas Rasul
Tugas Rasul ialah:
1. Membacakan al-Kitab(al-Qur’an) – Tilawah.
2. Membersihkan Aqidah dan Akhlak. – Tazkiyah
3. Mengajarkan al-Kitab dan Hikmat – Ta’lim
Menurut 4 ayat di atas, proses pengajaran dan pembelajaran mestilah bermula dengan tilawah, kemudian diikuti dengan ta’lim dan tazkiyah. Boleh juga dimulakan dengan tilawah kemudian diikuti dengan tazkiyah dan ta’lim. Konsep ini boleh diaplikasi oleh pendakwah, da’i, murrabi maupun diri perseorangan itu sendiri.
Akhir kata, al-Qur’an adalah mu’jizat dan merupakan ni’mat yang tidak ternilai untuk orang-orang yang beriman. Dengan adanya al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw, generasi muktahir ini mampu mengikuti generasi sahabat dan tabi’in. Kuatkanlah azam dan tekad. Mohonlah restu dari Ilahi.Amin.
Wallahu’alam.